Sunday, April 30, 2006

Sajak-sajak Kepergian Pramoedya A Toer

Tak Kan Pernah Mengering

akhirnya,
satu lagi kapal pergi, berenang perlahan di danau airmata
melaju tenang tinggalkan gurat-gurat cinta
dan purnama terakhir yang setia tersimpan di dada

akhirnya,
kapalmu mengangkat sauh dan beranjak pergi
tinggalkan keping-keping airmata yang membasah membekas di dermaga senja
dan sampan-sampan kepedihan jiwa yang hanyut melaut tanpa kata yang sempat terajut

selamat jalan, om pram
selamat jalan...

airmata ini tak kan pernah mengering
temani dayungmu yang berenang di Telaga Hening

airmata ini tak kan pernah mengering, om pram
airmata ini tak kan pernah mengering

tidak,
tak kan pernah...

bdg, 30 april '06

11.55


Kata Tlah Berpamit

dan aku masih termangu di sini, terdiam dalam balutan beku yang terus menggigit perih.
waktu tlah terhempas di pusaran tak berbatas, kata tlah berpamit tanpa sempat menyapa jiwa yang sakit.

seperti rumi kehilangan syamsi, dan malam kehilangan pagi, langit pun kini luluh ditinggal dekapan mentari.

sunyi, mati.
indonesiaku tak nampak lagi.


bdg, 30 april '06
13.01

5 Comments:

Blogger estananto said...

Teh Nina, apa kabar?

Ini saya paste puisi Ikranagara ya, juga tentang Pram...

KOM

internationale-mu
dari juang kepal tinju genggam senjata pena garang
sejak 1989 jadi nyanyi berkabung iringi jenazah-jenazah
dari almarhum negeri ke negeri almarhum
sejak tembok berlin sirna
digusur angin deras globalisasi akhir abad-20
satu persatu
sampai juga
ke karet

pram-mu yang dianiaya di buru
tanpa hakim tanpa keadilan
bertahun-tahun dijadikan tapol
manusia indonesia di bumi indonesianya sendiri
berakhir nafasnya di bulan chairil abad-21

dialah pram-mu yang paling gading
gading pun tak ada yang tak retak-retak
gara-gara cuaca ganas musim paceklik perang dingin
dialah yang mengibarkan bendera zhdanov
seperti stalin seperti mao seperti gang of four
seperti gorki

gading memang tak ada yang tak retak
dialah yang mengobrak-abrik dokter zhivago di gunung agung

bayang-bayangnya melingkupi kepulauan nusantara
sampai juga ke kota kelahiran
jadi obor menyala garang
maka demokrasi kita
di bawah lindungan ka’bah
pun
mereka sulut
di jalan beraspal kasar berlobang-lobang
mereka sulut onggokan karya kreatif
jadi unggun menyala
jadi abu
menggelepar
diterpa angin cuaca panas musim perang dingin

pram-mu yang dianiaya di buru
berakhir nafasnya di bulan chairil abad-21
tak lagi bisa menjawab
pertanyaanku ini: pram?
ironikah namanya
bagi jenazah seorang atheis
penganut materialisme marxis
dimandikan-disolatkan?

internationale berkumandang
kuyu
layu
taburan bunga rampai red azalea
diterpa angin deras musim globalisasi
di karet

di karet
internationale
pun
almarhum


twinbrook di tepi rock creek, 30 April 2006

3:42 PM  
Anonymous Lukisan Termurah said...

wah puisi tentang pra ajiip bngt

3:05 AM  
Blogger Neisya Punya Hati said...

Terima Kasih, Sangat Bermanfaat Sekali. Oya Kang, saya punya banyak sekali koleksi Emban Perak | Emban Cincin | Emban Akik | Emban Titanium | Cincin Perak | Cincin Akik | Gagang Cincin | Terima Kasih atas Kunjungannya. Salam Persaudaraan dari saya.

10:39 AM  
Blogger Mas Peril said...

bisa dapet paket murah android,menghilangkan komedo,dapet teman dengan 1 klik,dapet HP Samsung,pasang Speddy Di rumah,gratis game stick
..... .

6:53 PM  
Blogger bella putri said...

Agen Bola
Agen SBOBET
Agen Judi
Bonus
Prediksi Bola Jitu
Pendaftaran

11:56 PM  

Post a Comment

<< Home