Wednesday, April 05, 2006

Kakek Peniup Seruling Bambu

kulihat engkau berjalan dibalut malam. perlahan, berteman butiran hujan. seruling bambu tak pernah berlalu. topi lusuh berceloteh tentang peluh. badan ringkih dililit kain lusuh.
lalu kau dudukkan tubuhmu di bawah temaram lampu sebuah jalan. coba hilangkan letih yang memakan kaki, menusuk menggigit hingga ke nadi.
bulan hanya sepenggal, temani nafasmu yang tersenggal. lelah menopang tubuh yang mulai rapuh.

dan lirih serulingmu mulai bernyanyi sendu. temani malam yang kian erat dililit beku. denyut malam di kota tak lagi sendiri. pak tua rela temani dalam sepi.



bdg, 5 april '06

~ untukmu, kakek peniup seruling bambu di pinggir gasibu ~

2 Comments:

Blogger Neisya Punya Hati said...

Terima Kasih, Sangat Bermanfaat Sekali. Oya Kang, saya punya banyak sekali koleksi Emban Perak | Emban Cincin | Emban Akik | Emban Titanium | Cincin Perak | Cincin Akik | Gagang Cincin | Terima Kasih atas Kunjungannya. Salam Persaudaraan dari saya.

10:39 AM  
Blogger bella putri said...

Agen Bola
Agen SBOBET
Agen Judi
Bonus
Prediksi Bola Jitu
Pendaftaran

11:56 PM  

Post a Comment

<< Home