Tuesday, January 24, 2006

Danau Airmata

Danau Airmata 1

mata-mata berkantung menatap langit yang kelam menggulita. berharap akan melihat setitik cahaya. cahaya asa yang tlah lama pergi tinggalkan mereka. tinggalkan mereka dalam danau airmata. tinggalkan mereka memeluk erat parutan lapar. hingga tubuh-tubuh meronta menggelepar. dan terus menggelepar. hingga akhirnya diam terkapar.

bdg, 21 januari '06



Danau Airmata 2


langit biru tak lagi berwarna biru. tlah lama berubah menjadi kelabu. bahkan berselimut hitam kelam tanda lentera tlah padam. gemericik hujan airmata adalah teman setia. yang menyertai degup-degup dada dan jeritan perut anak-anak manusia. menanti malaikat maut menghampiri mereka. karena senyumnya tlah lama tiba. dan menyapa satu demi satu jiwa tuk dibawanya serta.

mata-mata berkantung itu kian lelah. semakin lelah. dan terus melemah. hingga akhirnya segala gundah pun hilang. resah melayang. pergi temani jiwa ke Pangkuan.

bdg, 23 januari '06


Danau Airmata 3

sepasang kaki kecil terseok di antara tubuh-tubuh. tubuh-tubuh yang sudah lama ditinggal pergi sang ruh. jauh.
sorot matanya begitu redup. hingga hampir tak nampak setitik pun cahaya meletup. tidak. hampir tak nampak.
entah sudah berapa kilometer ia berjalan. melangkah perlahan. menahan nafas yang sudah tak beraturan. menahan lelah dan kepenatan yang sudah hampir tak tertahankan. mencoba untuk terus bertahan. bertahan. mungkin akan ada suatu keajaiban. agar kebingungan dan ketidakmengertian terhapuskan.

hingga di detik entah ia berhenti melangkah. tubuh mungilnya begitu lelah dan lemah. ia terjatuh. tak sempat mengaduh. tak sempat menyeka peluh. tak sanggup melangkah lebih jauh.
detak di dada perlahan tinggal satusatu. lalu satu. lalu kelu. kaku. dan akhirnya pergi berlalu. lenyap bersama waktu. lenyap bersama pilu. tanpa sempat a - i - u.


bdg, 24 januari '06

0 Comments:

Post a Comment

<< Home