Saturday, November 19, 2005

Sajak-Sajak Tengah Malam 1

Hati Yang Terbakar

di terik mentari yang membakar, kucari hati-hati yang terbakar, yang kerongkongannya kerontang terbelah-belah hingga ke akar-akar
jiwa-jiwa mereka begitu setia, menjadi kayu dan bara senantiasa menyala, meski perih dan papa tanpa henti mendera
di kala malam hati mereka bagai gemintang yang menerangi langit gulita, bertaburan dari ufuk ke ufuk cakrawala, menghias lelangit luas yang terbentang begitu bebas tanpa batas
dahi-dahi mereka pancarkan Nyala Cinta, bagai selimut Rindu meliputi tujuh semesta, getarkan dawai-dawai arsy sidratul muntaha

inilah Tali Cinta-Mu, ya Allah, Tali Dambaan dan Kasih Sayang, hantarkan kembara jiwa terbang lepas menuju Samudera Maha Luas


bdg, 10 nov '05


Kuatkan Kepak Sayap Penatku

Tuhanku,

angin seruling-Mu berbisik lirih di malam sunyi ini, hantarkan gelisah hati seorang diri yang sering tak tahu diri.
kepak sayapku ini terasa begitu penat. sangat penat. dan o, kian penat.
gulungan awan gulita dan koyak taring mentari tanpa henti mencoba menjerat, menarik dan membelenggu erat, untukku mundur, mundur dan mundur, hingga terjerembab jatuh tenggelam ke dalam lumpur.

Tuhanku,
kuatkanlah kepak sayap-sayap penatku ini...


bdg, 11 nov '05


Hud-Hud dan Attar

hud-hud dan attar terbang di atas padang tandus sahara, tak hiraukan sengat mentari yang terus menggigit-gigit kulit hingga ke sungsum rasa, lewati satu demi satu dedaunan kering di oase-oase yang jua telah mengering.
para kafilah tlah lama tinggalkan kolam-kolam tandus, yang kian lama kian mendebu seolah hangus, lalu bersatu dengan butir-butir pasir yang mencengkeram tanpa henti, di antara tapak-tapak kaki yang terus meringis perih.
panasnya terasa membakar... membakar... membakar...

namun hud-hud dan attar tetap terbang coba kepakkan sayap-sayap mereka. meski letih, meski perih, meski tertatih pedih. sayap-sayap mereka terus mengembang, mengepak terbang, menembus koyakan taring mentari dan cambukan sengat petir yang datang silih berganti tiada henti.

tujuannya hanya satu
: sepenuhnya luluh terbakar dalam Api Cinta di Langit ke Tujuh.


bdg, 12 nov '05


Pintaku

Tuhanku,
ingin kupetik gemintang yang berkerlip di langit malam, dan kubawa pulang tuk kujadikan pedoman. begitu banyak persimpangan jalan yang menghadang, yang menanti tuk dipilih dan dilintasi siang malam.
dan begitu banyak buruj bertaburan, o Tuhan, penghias dan penerang gulita malam.

Tuhanku,
pilihkanlah gemintang-Mu untukku, agar kembara rinduku tak lagi pilu terbelenggu.

pintaku...


bdg, 14 nov '05


Karena Matahari Cinta

dedaunan berguguran di taman senja, diterbangkan bisikan angin yang bertiup tanpa tanya.
namun huruf tak bernyawa masih teronggok setia dalam dada, ingatkanku mencari makna yang tersembunyi di setiap titiknya.

" bagaimana ku mampu bertahan tanpa sinaran Matahari Cinta-Mu ?"
lirihku...


bdg, 17 nov '05


Kuketuk Pintu Cinta-Mu

kuketuk Pintu Cinta-Mu, Tuhan, dengan debar harap yang menemaniku. di sini, di setiap lorong-lorong nadiku. dan di sini, di setiap denyut jantungku.
meski tubuh terbalut selimut hina, meski hati tiada henti mendua, namun kini kucoba bangkit berdiri dan melangkah terseok perih di antara bara pasir penuh duri.

Tuhanku,
kuketuk Pintu Cinta-Mu...
kuketuk Pintu Cinta-Mu...
meski kepapaan teramat erat menjeruji dan membelenggu jiwaku.

Tuhanku,
inilah aku, wahai Rabbku,
sosok diri yang sering tak tahu malu,
karena tlah tenggelam lupakan Jubah Kabir-Mu...


bdg, 18 nov '05

1 Comments:

Blogger jiwakitamerdeka said...

Minta & rayu kpd Allah utk sebarang benda.....itulah jiwa merdeka. Minta kpd makhluk...ertinya jiwa hamba. Selamat berjuang....

11:03 PM  

Post a Comment

<< Home