Thursday, November 10, 2005

Sajak-Sajak Mengenang Munir : Untuk Kak Suciwati

Mengenang Munir : Untuk Kak Suciwati 1
oleh N. Kirana

di antara kapas-kapas awan engkau merenda airmata, menatap perginya pasangan jiwamu menuju istana Cinta

danau-danau senja penuhi kelopak matamu, luluhkan sayap jiwamu yang tengah membawamu mengarungi samudera
derai sunyi di sudut hatimu menggetarkan sungai-sungai doa, hingga genangi pipi buah hati tercinta yang menatapmu tanpa daya

sementara aku di sini hanya mampu menatapmu kelu, terpaku hingga hari berganti bulan dan bulan pun hanyut dalam kisaran waktu

dan kini, di detik yang tak lagi mampu tuk kuhitung pasti, hanya kata-kata sepi ini yang mampu kuucap untukmu, kak Suciwati

: " janganlah menangis lagi, janganlah ada airmata lagi,
yakinkan sang buah hati untuk tetap tegar dalam merenda hari-hari
meski pahit seakan tanpa ujung, tanpa akhir, tanpa henti "

: " janganlah menangis lagi, janganlah ada airmata lagi,
karena sungai-sungai doa hantarkan sang sayap jiwa merajut senyumnya di istana Cinta
meja keadilan kan segera menjelma di lautan nirwana, dan rekatkan keping-keping airmatamu di setiap lembah duka. "


bdg, 12 agustus 2005


Mengenang Munir : Untuk Kak Suciwati 2
oleh N. Kirana


kulihat telaga bening itu masih jua menggenang di kedua matamu, mata yang menyimpan riak dan ombak lautan duka, mata yang menanti lembar keadilan terkuak di padang gersang
sementara butiran hujan bagai serbuk debu yang terkantuk malam, enggan tinggalkan jawaban meski hanya segores kaki huruf

di kejauhan waktu aku hanya mampu terdiam membisu, terpaku lidahku ke dalam tanah-tanah terbelah yang kelu, berteman kerontang ilalang dan semak beronak yang tak jua berucap a - i - u

dan... ah, matahari rindumu itu terukir nyata di pelupuk senja
namun,
mengapa tatapannya masih jua beku membelenggu tanpa a - i - u ?...


bdg, 7 nov '05


Mengenang Munir : Untuk Kak Suciwati 3
oleh N. Kirana

danau-danau senja sudah lama menghitam, sehitam kepingan darah yang menetes membasahi tanah-tanah di sepanjang jalan sebuah kota
bahkan denyut nadi manusia sudah lama berhenti berkedut, gaungnya tlah lama tinggalkan awan dan langit yang tercabik marut

kota ini tlah mati
nafas-nafas tlah pergi
namun cintamu masih jua setia temani lautan sepi


bdg, 7 nov '05

~ untuk kak Suciwati dan nanda tercinta ~

0 Comments:

Post a Comment

<< Home