Kepada Para Pengembara
aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, yang huruf-hurufnya terdampar di labirin yang hilang dengkur, menanti bait-bait rindu mengisi dan mengisi cawan-cawan anggur
para bunga yang gugur tlah berganti dengan senyum-senyum kuntum, yang kelopaknya tanpa henti meniti nafas menuju ranum
huruf-huruf dosa tereja di kain tua yang mulai mengusang warnanya, di mana di situ pula peluhku menitik torehkan kisah diri yang sering tenggelam dalam hawa
aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, pada taman-taman Perindu kusaksikan butir airmata berkumpul menjadi danau-danau Cinta, pada kawah-kawah Cahaya kusaksikan sungai magma berkumpul menjadi telaga-telaga Nafas Semesta
marilah, isilah gelas-gelas huruf kosongku dengan kecupan doa yang selalu terulur, dan cawan-cawan kelelahan yang teronggok sunyi ini masih jua setia menanti tuk dituangi anggur-anggur
aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, masih terus kusapu reranting dan dedahanan yang gugur di taman-taman subur, juga bunga dan dedaun layu yang jatuh luluh karena asyik bertasbih di atas tanah-tanah gembur
pada taman-taman Perindu dan lirih seruling bambu, kunikmati ayat-ayat Cinta sang simurgh yang tak lagi pilu terbelenggu, bebas lepas terbang layari langit demi langit hingga terdampar di Istana Langit ke Tujuh
hai, kau para pengembara !
bdg, 25 nov '05
para bunga yang gugur tlah berganti dengan senyum-senyum kuntum, yang kelopaknya tanpa henti meniti nafas menuju ranum
huruf-huruf dosa tereja di kain tua yang mulai mengusang warnanya, di mana di situ pula peluhku menitik torehkan kisah diri yang sering tenggelam dalam hawa
aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, pada taman-taman Perindu kusaksikan butir airmata berkumpul menjadi danau-danau Cinta, pada kawah-kawah Cahaya kusaksikan sungai magma berkumpul menjadi telaga-telaga Nafas Semesta
marilah, isilah gelas-gelas huruf kosongku dengan kecupan doa yang selalu terulur, dan cawan-cawan kelelahan yang teronggok sunyi ini masih jua setia menanti tuk dituangi anggur-anggur
aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, masih terus kusapu reranting dan dedahanan yang gugur di taman-taman subur, juga bunga dan dedaun layu yang jatuh luluh karena asyik bertasbih di atas tanah-tanah gembur
pada taman-taman Perindu dan lirih seruling bambu, kunikmati ayat-ayat Cinta sang simurgh yang tak lagi pilu terbelenggu, bebas lepas terbang layari langit demi langit hingga terdampar di Istana Langit ke Tujuh
hai, kau para pengembara !
bdg, 25 nov '05



"Kimya, Rumi's Daughter" : Muriel Maufroy
"The Kite Runner" : Khalled Hosseini
"Senapan Cinta" : Kurnia Effendi
"Kincir Api" : Kurnia Effendi
"Bercinta Di Bawah Bulan" : Kurnia Effendi
"Menyusuri Lorong-Lorong Dunia" : Sigit Susanto
"Filosofi Kopi" : Dewi "Dee" Lestari
"24 Wajah Billy" : Daniel Keyes
"Mereka Bilang Aku Gila" : Ken Steele & Claire Berman
"The Greatest Love Story" : Charles Dickens, Fyodor Dostoyevsky, Guy de Maupassant, etc
"The Pianist" : Wladyslaw Szpilman
"Samurai: Kastel Awan Burung Gereja" : Takashi Matsuoka
"Frida" : Barbara Mujica
0 Comments:
Post a Comment
<< Home