Friday, November 25, 2005

Kepada Para Pengembara

aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, yang huruf-hurufnya terdampar di labirin yang hilang dengkur, menanti bait-bait rindu mengisi dan mengisi cawan-cawan anggur
para bunga yang gugur tlah berganti dengan senyum-senyum kuntum, yang kelopaknya tanpa henti meniti nafas menuju ranum
huruf-huruf dosa tereja di kain tua yang mulai mengusang warnanya, di mana di situ pula peluhku menitik torehkan kisah diri yang sering tenggelam dalam hawa

aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, pada taman-taman Perindu kusaksikan butir airmata berkumpul menjadi danau-danau Cinta, pada kawah-kawah Cahaya kusaksikan sungai magma berkumpul menjadi telaga-telaga Nafas Semesta
marilah, isilah gelas-gelas huruf kosongku dengan kecupan doa yang selalu terulur, dan cawan-cawan kelelahan yang teronggok sunyi ini masih jua setia menanti tuk dituangi anggur-anggur

aku si tukang sapu yang menyapu dedaun gugur, masih terus kusapu reranting dan dedahanan yang gugur di taman-taman subur, juga bunga dan dedaun layu yang jatuh luluh karena asyik bertasbih di atas tanah-tanah gembur
pada taman-taman Perindu dan lirih seruling bambu, kunikmati ayat-ayat Cinta sang simurgh yang tak lagi pilu terbelenggu, bebas lepas terbang layari langit demi langit hingga terdampar di Istana Langit ke Tujuh

hai, kau para pengembara !


bdg, 25 nov '05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home