Sunday, October 02, 2005

Kisah Pak Tua Penjual Minyak Tanah

hari tertatih merambat siang, peluh kian berkejaran di sekujur badan
kapas awan pergi ke langit entah, tinggalkan pijar mentari yang membekas di tanah terbelah

lautan derita tersimpan di sepasang bola mata, diari kehidupan bercerita di gurat sebuah wajah
tubuh letih bertopang pada sepasang kaki renta, dua dirigen tua dan sebilah bambu bergelayut lelah di pundak tua
meski sengat mentari menggigit-gigit keriput kulitnya, meski tusukan butir hujan menerkam tubuh rentanya, senyum lembut terukir setia di bibirnya
tanpa henti mengais rizki yang halal demi mengarungi lautan ridho-Nya, meski nafas seolah tlah hilang makna

ah, dua dirigen tua dan sebilah bambu yang kelak kan berbicara...


bdg, 2 okt '05
05.33

~ untukmu pak tua penjual minyak tanah ~

0 Comments:

Post a Comment

<< Home