Monday, August 01, 2005

Surat Rindu untuk Ayah dan Ibu

detik demi detik berlalu, dan aku masih berdiri di sini memandangi kota Bandung jauh di bawah sana, di ujung lembayung waktu. tiupan angin kurasakan kian menggigit kulitku, menyelusup di antara belulangku, membuat aliran darahku seakan beku. kabut putih tipis pun perlahan mulai merayap turun, menyentuh menyelimuti semua yang ada. menghantarkan selendang tipis mentari yang menyorot kelu.
lalu kulemparkan pandanganku ke langit biru yang tertutup selimut putih kapas-kapas awan. kelebat bayangan wajahmu, ayah, menyapa tatap mataku. sendu, mengguris kalbu. bersama mendampingi wajah ibu, menggetarkan kerinduan akan kenangan kita di masa lalu. sapa wajahmu, ibu, menyentuh dawai hatiku, menemani nyanyi sunyiku di setiap lembah dukaku. menghantarkan senyum teduhmu yang setia mendampingi langkahku, hingga putaran roda waktu datang menggilas hari-harimu dan hari-hariku, hari-hari kita...

ya Rabb, kutitipkan penggalan rindu hatiku di setiap huruf doaku...


lembang, 30 juli '05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home