Friday, August 05, 2005

Surat Pertama dan Terakhir

Kertas penuh kenangan darimu masih jua kupegang, Win, menghantarkan kepak-kepak waktu masa lalu, seakan semua kembali nyata seperti dulu. Tergambar kembali tawa ceriamu, yang tak pernah lepas dari wajahmu, yang menyelimuti hari-hari manis anak-anak kecil yang hidup di kolong jembatan itu. Detik berganti menit, menit berganti jam, dan hari berganti minggu. Entah sudah bulan ke berapa engkau masih setia menemani canda tawa mereka. Kausimpan rapat-rapat semua catatan rahasiamu di balik lembar-lembar resep yang harus tetap kautebus, sampai pada saat yang entah kau sendiri pun tak tahu.

Wajah cerahmu, Win, tak mampu menutup kegelisahan sorot mata sendumu, yang menyimpan berjuta tanya di hatiku. Namun selalu saja kau tutupi semua itu dalam tawa ceriamu yang semu, dan kau pinta aku tuk melupakan kegundahan yang meraja di hatiku, kegundahan yang menyimpan berjuta tanya akan dirimu, Win, kegundahan akan sesuatu yang kausimpan rapi tanpa mau kau bagi denganku. Dan kau tahu itu.

Dan akhirnya semua pun menjadi jelas, sangat jelas bahkan, setelah selembar kertas lusuh yang menyimpan rahasiamu kautinggalkan di sudut kamar dan menyapaku di ujung batas. Batas antara penantian dan kenyataan. Batas antara harapan dan kepastian. Batas yang menjadi penjelas kesenduan sorot matamu yang membelenggu lautan tanya di hatiku.

Winda, mengapa baru sekarang kau ungkapkan semua ini padaku ? Setelah takdir Sang Cinta membukanya untukku, membukanya untuk kami ? Setelah kau melangkah pergi tinggalkan kami sendiri, dalam sepinya hari-hari tanpa kau di sini lagi ? Setelah hari-hari ceriamu yang penuh nafas ghiroh lenyap ditelan gundukan tanah merah di hadapanku, di hadapan kami, tanpa kau beri kesempatan kepada kami untuk bisa membantumu di hari-hari terakhirmu, Win ?

Ah, Win. Kerudung biru muda yang sangat kau suka kini masih tetap kujaga, kusimpan rapi dalam lemariku. Sebagaimana kusimpan rapi lembar-lembar kenangan manis yang terajut mesra di antara kita dan mereka, anak-anak itu. Kerudung biru muda yang menyimpan berjuta misteri tentang dirimu, tentang penyakitmu, tentang perjalananmu, Win, terlihat bercahaya di antara lembaran baju-baju lain yang mengelilinginya. Cahayanya terenda begitu manis di antara tarian bintang di Langit Cinta. Kerudung birumu itu, Win, kelak akan menjadi saksi yang tak lagi bisu.

Ah, Winda. Surat pertama dan terakhir darimu ini masih kupegang. Kertas lusuh yang menyimpan banyak rahasia dan kenangan akan dirimu ini masih jua kugenggam. Entah sampai kapan...


bdg, 5 agustus '05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home