Monday, August 01, 2005

Rani dan Lasmi

di antara puing-puing kepedihan, engkau menapak butir-butir pasir di laut biru, menjejak kaki di bawah taring cahaya matahari, yang menggigit-gigit kulit bagai terbakar bara api. penat, tergambar jelas di setiap sudut sorot matamu. letih, mengalirkan sungai peluh di sekujur wajah dan lehermu. sesekali tiupan kencang angin laut melambai-lambaikan kerudung dan bajumu. seakan turut menambah lukisan kesedihan yang teramat dalam menggores di setiap palung-palung kalbu.

entah sudah hari ke berapa engkau begitu. dan masih terus jua seperti itu. melangkah tertatih pilu dengan penuh harap namun juga penuh ragu. lemparkan pandangan sayumu menembus gelegar ombak yang menghempas di bibir pantai, mencari-cari sosok mungil yang pernah setia mengisi lembar-lembar manis masa kecilmu, hingga saat-saat ia pergi tinggalkanmu sendiri.

" Lasmiiiii..... !! Lasmiiiiii..... !! "
teriakmu lantang seakan berkejaran dengan deru ombak,
" Lasmiiii... Kamu di manaaa... ??? Lasmiiii..... !! Cepat pulang, Lasmiii.... Kakak masih menunggumuuu.... !! Lasmiiiiii...... !!! "

masih saja kau terus berteriak, coba kalahkan nyanyian ombak yang terhempas dicumbu batas.

" Raniiiii.... ! Sudah, Raniiii... ! "
sebuah suara serak tersendat, sayup terdengar menyentuh sang bayu, mengiringi butir demi butir airmata yang bergulir di pipi seorang bunda.

" Rani.... oh, Nak, sini sayang... "

suara itu kini terdengar dekat. dan terus mendekat. makin dekat.

tiba-tiba... sepasang tangan renta memeluk bahumu, mencoba menahan langkahmu, yang terus saja berjalan di antara puing-puing kenangan masa lalu.

sesaat Rani mencoba melepaskan pelukan sang bunda. namun tangan bunda yang sudah mulai berkerut renta ternyata masih mampu menahan itu semua. ya, bunda masih menyimpan sisa-sisa tenaganya di usia senjanya itu. demi anak-anaknya ia kan terus berjuang di kepahitan hidup yang masih terus menggilas impi, agar berlalu dan tak lagi semu.

ya, ia harus kuat, ia harus terus berjuang, demi hidup anak-anaknya, demi hidup para buah hatinya yang masih tersisa : Rani dan Andri. hanya merekalah anak-anaknya yang masih tersisa dari kemarahan alam itu. hanya merekalah yang terselamatkan dari gulungan raksasa air laut yang telah menenggelamkan keceriaan mereka itu, di saat-saat mereka justru tengah asyik bercanda, berkejaran dan berlomba mencari kerang-kerang indah di hari minggu pagi itu, sambil merasakan hangatnya senyum mentari yang menyimpan lautan misteri.

" Lasmi... Lasmi... Adikku... ," suara Rani terdengar melemah, begitu sendu, begitu pilu, memanggil tanpa henti nama adik bungsunya tercinta, yang telah hilang ikut disapu amarah tsunami di minggu pagi itu. ia kini bagai kunang-kunang hilang lampu, sejak kejadian tragis itu dua minggu yang lalu. matanya yang dulu bersinar ceria, tawanya yang dulu tak pernah pergi dari wajah sumringahnya, kini seakan tlah lenyap ditelan bumi, sebagaimana lenyapnya sang adik yang sangat dicintainya itu bersama gulungan ombak raksasa yang menyambutnya di pinggir pantai itu.

Rani yang ceria, Rani yang penuh tawa, gadis manis berusia empat belas tahun, anak sulung dari ayahbundanya, kini telah berubah dalam lautan pilu sang waktu. sepilu hati sang bunda yang juga kehilangan suami dan anak bungsu tercinta yang baru saja genap berusia 5 tahun. sepilu kepak camar yang ikut pergi tinggalkan dunia dalam sepinya impi. sepilu langit biru yang menjadi saksi bisu amukan tsunami di minggu pagi itu.

ya, Lasmi kecil tlah tiada. Lasmi kecil yang lucu dan sangat disayangi keluarga dan para tetangganya telah pergi tinggalkan dunia. bersama ratusan ribu Lasmi kecil lainnya, ia telah menjadi martir bagi keluarganya, negaranya, bangsanya. ia telah menjadi malaikat penjaga pintu-pintu surga bagi ayahbunda dan keluarganya.

ah, Lasmi, selamat jalan, sayang. tawa ceriamu kan tetap terukir di kepak camar-camar itu. senyum bahagiamu kan tetap bersinar di istana para penghuni langit, yang bertasbih tanpa henti getarkan Arsy-Arsy Qalbu.


bdg, 31 juli '05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home