Monday, July 18, 2005

tutur tuduh

engkau menatap ke langit yang penuh api. coba nikmati tabur garam di koyak tubuhmu. meski perih, meski pedih, hingga ke urat nadi. darah pun seakan terhenti. hangus oleh tutur pedas penuh tuduh dan caci.
lalu... dalam pilumu kaucoba bangkit, berdiri, menapak duri-duri. tertatih di antara koyak dagingmu. terseok di antara ceceran darahmu, yang kian deras mengalir, bagai anak sungai menghilir.

wahai engkau yang diterpa badai fitnah penuh caci, airmatamu tlah mengetuk pintu arsy. dan doamu menggetarkan istana ilahi.


bdg, 17 juli '05

~ untukmu sahabat ~

0 Comments:

Post a Comment

<< Home