Tuesday, July 19, 2005

ketika Senandung Camar itu tiada...

pagi hari tiup bayu semilir menghilir dedaunan
butir-butir cahya mentari menyapa halus kayu-kayu pepohonan
dan lembar demi lembar kelopak daun sisa musim semi yang mulai berguguran
membias indah menyimpan berjuta senyuman

nun jauh di sana
seorang anak kecil telanjang kakinya berlarian
melintas garis-garis pantai menyiratkan Rahasia Alam Tuhan
sambil membawa jala lebar penangkap ikan
hanya satu yang ada dalam pikirannya :
"Aku harus bisa mengumpulkan ikan sebanyak mungkin
untuk membantu emak berjualan di pasar kota
dan menyisihkannya untuk kusimpan sedikit di tabungan
walaupun tak seberapa "...

terlintas di pikirannya segaris senyum yang tulus dan bahagia
yang selalu menghias wajah kerut-merut seorang wanita 50an
yang telah banyak dimakan panasnya api perjuangan hidup
yang telah mengenal banyak duri dan onak tajam
namun senantiasa penuh cinta dan keikhlasan

hari pun tertatih-tatih merambat siang
mentari mulai menggeser di antara awan-awan
camar-camar riang bernyanyi menghias lelangit terang

" Hei, agaknya hari sudah siang
aku harus segera berkemas pulang
mengganti baju lusuh ini dengan baju yang sedikit lebih rupawan
untuk kupakai ke sekolahan "

dan anak kecil lusuh berwajah tampan itupun segera melangkah pulang
mengayunkan langkah-langkah penat yang tak begitu ia rasakan
demi dilihatnya bayangan emaknya yang tengah menantinya di depan
dan terukir senyum bahagia di wajah tuanya
karena melihat kehadirannya dengan ikan jaringannya yang berlimpah
" Emak pasti senang...
ah, aku ingin segera berjumpa emak
emak yang sangat aku sayang "

sesekali dibetulkannya jaring penuh ikan yang menggelayut berat di bahu kirinya
sambil tangan kanannya menyeka peluh yang mengalir di sekujur wajah dan lehernya

akhirnya,
tibalah ia di jalan arah menuju rumahnya
seolah terbayang sudah masakan yang sudah disiapkan emaknya
penopang lapar yang sejak tadi menggoda perutnya

namun...
langkah penatnya tiba-tiba terhenti
terheran melihat banyaknya orang di depan rumahnya
" Tak seperti biasanya,
ada apakah gerangan ?
Di manakah emak ?... "
tanyanya dalam hati

dan langkahnya pun diteruskannya

setibanya di dekat rumah
sang bocah 10 tahun itupun berteriak lantang
" Emaak... emaak... aku pulang !..
Jaringku penuh, Mak, ikanku banyak
Emak, emaak, ...
aku sudah pulang, Maak...!! "

di dekat pintu masuk rumah kayu yang sudah hampir rubuh itu
tangan bocah itu dipegang oleh seorang pria
" Paman, Paman ada di sini ?
Emak di mana, Paman ?
Aku ingin menunjukkan hasil panen ikanku hari ini
Aku ingin melihat senyum emak, Paman... "
akhirnya pria berwajah sedih itupun melepaskan pegangan tangannya
dan sang bocah pun melanjutkan langkah penat kakinya
di antara kerumunan orang-orang yang memenuhi sekelilingnya

tiba-tiba... kedua mata bundarnya terbelalak lebar
mulut mungilnya terbuka tanpa suara
nafasnya seolah terhenti seketika
kedua alis tebalnya terpaut menggaris dahi

dan...
sebuah lengkingan mengharukan pun memecah deburan ombak kehidupan Rahasia Tuhan

" Emaak...! Emaak...! Emak...!
Jangan tinggalkan Bayu, Mak... jangan tinggalkan Bayu....
Mak, kalau emak pergi, Bayu akan sendiri...
Emaaak...!! "

isak tangis pilu menyayat buluh perindu
seorang hamba telah kembali ke Empunya
sang camar perindu telah kembali ke Kampungnya
sang pelipur lara bayu telah bertemu Kekasih Hatinya
emak sang bunda tercinta telah pergi tinggalkan dunia...


bdg, 23/04/02

(untukmu, bocah di tepi pantai itu)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home