Monday, July 11, 2005

Elegi untuk Sahabat II : Di Atas Jembatan Tua


di atas jembatan tua engkau duduk memeluk kaki lelahmu. menatap redup awan-awan bisu yang enggan pergi. berkata perlahan kepada langit merah saga yang tak pernah sendiri, " sauh-sauh kehidupan tlah aku lewati. namun tapak penat kakiku tak tertahan lagi. engkau masih jua belum kembali. di sini, engkau masih kunanti. mencoba uraikan semua janji yang pernah kita patri. dalam nafas, dalam pikir, dalam hati. di sini, kita pernah bertaut kata. bahwa bahtera kasih ini kan selamanya tertata. suka duka dan tangis canda kita. selamanya kan selalu bersama. menautkan jari-jemari kasih dan sayang yang begitu indah. hingga kepak camar-camar bagai terhenti dari nada-nada keindahannya, hingga kilau bintang-bintang bagai sirna dari istana cahayanya, tenggelam dalam ayat-ayat cinta kebahagiaan kita. di sini, kita pernah bertemu. di sini, kita pernah berbagi asa. dan di sini pula kita pernah mengikat setia. wahai engkau sayap jiwaku, sayapku kini patah tanpa sayapmu. dahan dan ranting-ranting pepohonanku kian tandus mengering, bahkan mulai retak tak menentu. telaga teduh itu tlah mengering. gelas-gelas cinta yang dulu kau isi penuh kini mulai pergi, tak berisi. satu demi satu terbelah, retak, dan bahkan pecah berserak tanpa mampu kutolak. seiring dengan kepergianmu yang jauh... jauh... jauh... dan tak jua kembali. hingga kini... "

lalu perlahan butir airmata mulai meneteskan kepingannya, menyusuri kedua pipimu. kian lama kian deras. makin deras. hingga menjelma menjadi sungai yang tak berbatas.
mentari cinta itu tlah retak. satu sayap jiwa tlah patah, terbelah. kepingannya berserak. lalu meluluh. mengabu. mendebu. dalam bisu.


cakung, 8 juli '05
23.55

~ untukmu sahabat, yang merindu Telaga Kautsar ~

0 Comments:

Post a Comment

<< Home