Friday, June 24, 2005

Seruling Kematian II


engkau berdiri kaku, mematung, menatap beku pada lautan bisu. bertanya sunyi kepada langit kelam bagai arang, memagut lirih bayu malam.
pilukan ombak hingga tak lagi bergerak. jantung tak lagi berdetak. mati. mengejang kaku.
sementara awan gelap hitam kian menghantam. merintih beku, bagai keping mayat dibelenggu.

aku di sini menemani deburmu, lantunkan sunyi di lembah bisu, coba nikmati taring air laut yang mengikis perlahan bagai maut. kelu, kaku.
sesekali riap mataku meriak, menghadang terjang angin yang acap menghentak, dan badai yang bergejolak.
tak ada kata, tak ada nada, tak ada suara. tak ada nafas, tak ada hembus, tak ada hisap. semua senyap, duniaku lenyap. luruh, runtuh.
sayap Izrail tlah berlalu. sekeping senyummu tlah beku, tinggalkan aku tanpa a - i - u.

kini, tinggallah aku di sini. sendiri. sepi. mengukir pasir dengan sunyi. melukis malam tanpa bintang, tanpa rembulan. kuasku kian kelam, menghitam, mencekam.
tanpa derit, tanpa bait. hanyalah pahit yang kian menghimpit.
dalam kaku perlahan kau mengabu. lalu mendebu. tinggalkan aku dalam bisu, tanpa a - i - u.


bdg, 24 juni '05

0 Comments:

Post a Comment

<< Home