Friday, March 17, 2000

di Kesunyian Malam dan Sayupnya Bayu


di tengah heningnya malam
di semilirnya bayu nan tersulam
di bawah lampu nan temaram
di kaki langit nan kelam
getar bibirku lemah bergumam...

duhai Tuhanku...
terasa sepi menggigit qalbuku
dalam gelap asa nan pilu
kutersungkur di hadapan-Mu

duhai Tuhanku...
mengapakah dengan diriku
yang terasa begitu sendu
dalam gelak tawa nan semu
dalam senyum canda nan bisu
saat sebuah nyawa meregang kaku
di sini... di sudut qalbuku
pedih... bagai disayat sembilu

duhai Tuhanku...
masihkah ada detikku
detik 'tuk meraih Cinta-Mu
masihkah ada waktuku
waktu 'tuk menggapai Asa-Mu
masihkah ada harapku
harap 'tuk bisa selalu mendampingi-Mu...

duhai Tuhanku...
betapa kusendiri di malam ini
betapa kusepi di senyap ini
betapa kuresah di kabut ini
betapa kugelisah di gelap ini

duhai Tuhanku...
betapa kurindu Rengkuh Tangan-Mu
betapa kuingin Belai Lembut Jemari-Mu
di sela-sela helai rambutku
di antara derai tetes air mataku
di kisi-kisi relung hatiku

betapa kuimpikan Diri-Mu
'kan selalu bersanding di sini, di sisiku...

duhai Tuhanku...
masihkah terbuka Pintu-Pintu-Mu
untuk diri yang tiada malu
masihkah 'kan Kau Dekap aku
tatkala qalbu masih menduakan-Mu

duhai Tuhanku...
hapuslah tetes-tetes air di pipiku
usaplah mata dan wajahku
karena hanya Kau-lah yang mampu
untuk melakukan semua itu
karena hanya Kau-lah yang tahu
segala debur di dadaku

dan,
hanya Kau-lah, Tuhanku
tujuan segala Damba dan Rindu...


bdg, 17 Maret 2000