Thursday, May 04, 2006

Kegelisahanku

Tuhanku,
jika Engkau mengusirku dari pintu-Mu,
maka kepada siapa lagi aku bersandar ?
jika Engkau menolakku untuk bersanding di samping-Mu,
maka kepada siapa lagi aku kan berlindung ?

Tuhanku,
ke manakah hamba yang lari harus kembali,
selain kepada Mawlanya ?
adakah selain Engkau yang kan melindunginya, ya Ilahi,
dari kemurkaan-Mu ?


bdg, 4 mei '06

Monday, May 01, 2006

Bertahan

dan aku menggigil di senyapnya malam, meluruh di antara detik yang terus tersulam. mencoba bertahan meski duniaku perlahan menghilang. menghilang. dan menghilang. hingga tiba pada titik yang datang di hadapan, mengajakku sirna dalam Dekapan.

dan aku menggigil di senyapnya malam, luruh bersimpuh dalam lautan waktu yang tak terbilang. larut dalam kata-kata yang tak terucapkan, luluh dalam sampan airmata yang tak terhentikan. hanyut di atas genangan nanah yang memantulkan bayang-bayang luka.

dan aku masih jua terus menggigil di senyapnya malam, mencoba tuk terus bertahan. bertahan. dan bertahan. hingga kutemukan Jawaban. hingga kutemukan Pelabuhan untukku lepaskan kepenatan.


bdg, 1 mei '06

Sunday, April 30, 2006

Sajak-sajak Kepergian Pramoedya A Toer

Tak Kan Pernah Mengering

akhirnya,
satu lagi kapal pergi, berenang perlahan di danau airmata
melaju tenang tinggalkan gurat-gurat cinta
dan purnama terakhir yang setia tersimpan di dada

akhirnya,
kapalmu mengangkat sauh dan beranjak pergi
tinggalkan keping-keping airmata yang membasah membekas di dermaga senja
dan sampan-sampan kepedihan jiwa yang hanyut melaut tanpa kata yang sempat terajut

selamat jalan, om pram
selamat jalan...

airmata ini tak kan pernah mengering
temani dayungmu yang berenang di Telaga Hening

airmata ini tak kan pernah mengering, om pram
airmata ini tak kan pernah mengering

tidak,
tak kan pernah...

bdg, 30 april '06

11.55


Kata Tlah Berpamit

dan aku masih termangu di sini, terdiam dalam balutan beku yang terus menggigit perih.
waktu tlah terhempas di pusaran tak berbatas, kata tlah berpamit tanpa sempat menyapa jiwa yang sakit.

seperti rumi kehilangan syamsi, dan malam kehilangan pagi, langit pun kini luluh ditinggal dekapan mentari.

sunyi, mati.
indonesiaku tak nampak lagi.


bdg, 30 april '06
13.01

Friday, April 28, 2006

Torehan Namaku

kepada langit dan bumi yang tertunduk pilu, ini rinduku pada cinta di Ufuk Timur. cinta yang dulu pernah kutinggalkan tanpa pesan. cinta yang dulu pernah kulupakan tanpa alasan. namun kepingannya masih membasah di langit malam, menanti tanpa henti untukku kembali pulang.

kepada langit dan bumi yang menunduk membisu, ini aku datang kembali ke Pangkuan. coba menyapa hati yang dulu pernah kutinggalkan, dengan torehan namaku di atas nisan pilu.


bdg, 27 april '06

Tuesday, April 25, 2006

Rintihan Rindu

langit malam menggeliat resah, karena kepingan pinta yang meluncur dari bibir sang hamba. tanah-tanah berderu gundah, karena jiwa datang menyapa dengan Cinta.
seperti air mengalir menuruni lereng-lereng pegunungan kalbu, telaga bening itu pun menetes deras basahi sajadah biru. bawa kepingan hati yang tlah retak oleh pilu.
dan waktu terus berdetak sendu, gelisah tak menentu. tak lagi tahan mendengar rintihan Rindu dari palung-palung kalbu.


bdg, 24 april '06

Wednesday, April 05, 2006

Kakek Peniup Seruling Bambu

kulihat engkau berjalan dibalut malam. perlahan, berteman butiran hujan. seruling bambu tak pernah berlalu. topi lusuh berceloteh tentang peluh. badan ringkih dililit kain lusuh.
lalu kau dudukkan tubuhmu di bawah temaram lampu sebuah jalan. coba hilangkan letih yang memakan kaki, menusuk menggigit hingga ke nadi.
bulan hanya sepenggal, temani nafasmu yang tersenggal. lelah menopang tubuh yang mulai rapuh.

dan lirih serulingmu mulai bernyanyi sendu. temani malam yang kian erat dililit beku. denyut malam di kota tak lagi sendiri. pak tua rela temani dalam sepi.



bdg, 5 april '06

~ untukmu, kakek peniup seruling bambu di pinggir gasibu ~

Monday, April 03, 2006

Kerinduan

Kerinduan I

awan masih menyisakan gerimisnya ketika engkau datang semalam. wajah dengan gurat-gurat cinta menyapaku, memaksaku tuk diam. satu keyakinan smakin dalam tertanam. kian dalam menghujam. seiring dengan detak jantung yang terus berkejaran. sementara langit gulita tlah menghilang. awan yang menyisakan tirai gerimisnya tak lagi berani memandang. pergi perlahan tinggalkan kanvas malam. dan biarkan lirih bayu bercerita tentang cinta dan kerinduan, yang tlah sekian lama terpendam. dan kusimpan dalam-dalam.

bdg, 31 maret '06



Kerinduan II

menatap getar cinta yang melayari kedua bola matamu, membuatku tak sanggup tuk berkata-kata. hanya denyut nadi yang kian berlomba. dan detak waktu yang terus berpacu. seiring dengan cahya mentari yang jatuh menyentuh pucuk-pucuk cemara.
kita masih jua terdiam terpaku. membisu. sementara lirih angin terus berbisik di antara daun dan ranting-ranting. air sungai berkejaran tanpa henti, mengalir di antara batu-batu hijau yang mewangi basahi hati.
perlahan kepakan sayap burung pun menjauh. tinggalkan kita yang masih jua terpaku membisu. hanya mampu saling pandang. saling genggam. penuh rindu.

bdg, 31 maret '06



Kerinduan III

engkau duduk di atas dermaga tua. memeluk kaki erat dan memandangku tanpa suara, tanpa kata. hanya tatap lembutmu yang berbicara, menyapa hatiku yang tlah lama memendam rindu.
debur ombak bermain berkejaran di depan kita, seakan ingin menggoda kita berdua, yang tengah tenggelam dalam kebingungan kata. buih-buih yang tersisa di bebatuan karang bercerita tentang hati dan cinta yang saling menjaga.
lalu kita bergenggaman, berdiri, melangkah perlahan. jari-jemari kita begitu erat bertautan. tak mau tuk saling melepaskan. tak mau tuk saling berjauhan.

ah, cinta, aku tak ingin jauh darimu...


bdg, 2 april '06


~ untuk cintaku, the one and only : Abi E ~